Skip to content

Prof Dr Achmad Sodiki SH, Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi

June 26, 2011

Orang Desa yang Takut Jadi Hakim Lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang penuh dengan nilai religius, Prof Dr Achmad Sodiki tumbuh sebagai sosok yang konsisten membela nilai-nilai kebenaran. Mengabdikan diri hampir 40 tahun di lingkungan kampus, kini ia menjadi salah satu dari sembilan pendekar hukum di lembaga penegak konstitusi di negeri ini. Bagaimana perjalanan hidupnya?

”SAYA ini sama dengan orang-orang kebanyakan. Saya ini orang desa juga, lahir dan besar di Blitar, lalu kuliah di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang,” tutur Prof Dr Achmad Sodiki saat ditemui INDOPOS di kantornya Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) Jakarta, pertengahan pekan lalu. Sejak masih kecil, Sodiki tinggal dan dibimbing kakeknya, karena ayahnya telah wafat duluan.

”Buyut saya namanya Imam Buchori. Beliau itu dulu adalah orang-orang pergerakan yang ikut menjadi perintis kemerdekaan. Beliau pernah dipenjara di Kali Sosok, pernah juga dibuang ke Banda bersama HOS Cokroaminoto. Jadi jiwa-jiwa perjuangan itu yang kemudian ditanamkan oleh kakek kepada saya,” ujar Guru Besar Hukum Unibraw itu. Oleh keluarganya, Sodiki dipaksa untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, termasuk melanjutkan kuliah ke Unibraw.

”Padahal sebagai orang desa, saat itu jarang ada yang jadi mahasiswa. Tapi kakek saya sangat concern mendorong saya agar bisa sekolah. Mungkin karena pergaulannya dengan orang-orang yang perjuangan yang intelek, maka sekalipun saya tinggal di desa, tapi tetap didorong untuk kuliah Terserah saya mau jadi apapun nantinya, pokoknya sekolah dulu,” kata Sodiki. Karena itu, akhirnya pada 1964, setamat dari SMA Sodiki memilih melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Unibraw. ”Saat itu, memilih Fakultas Hukum juga karena ikut temanteman,” tutur pria yang sejak SD hingga SMA itu selalu menjadi juara satu di kelasnya. Sodiki sempat berhenti kuliah selama setahun, saat meletusnya peristiwa G30S/ PKI pada 1965.

”Karena kampusnya kacau, saya berhenti kuliah setahun. Namun setelah itu melanjutkan lagi hingga akhirnya lulus pada 1970,” kata pria yang merupakan anak tunggal tersebut. Usai meraih gelar Sarjana Hukum (SH), Sodiki tidak lantas mengikuti rekan-rekannya yang menjadi birokrat atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Padahal saat itu peluang menjadi PNS sangat besar, usai terjadi peristiwa G30S/PKI. Bukannya tidak mau menjadi PNS, namun Sodiki dilarang oleh kakeknya menjadi birokrat.

”Saat itu nuansa kebencian kepada Belanda masih tinggi. Kebencian itu kemudian menetes kepada pegawai. Sebab dulu di zaman Belanda pegawai negeri itu kan disebutnya amtenaar atau antek-antek Belanda. Karena itu, oleh kakek saya dilarang menjadi PNS,” ucapnya. Daripada menganggur dan ilmunya tidak terpakai, Sodiki pun akhirnya melamar dan diterima sebagai staf pengajar di almamaternya. ”Kakek malah senang saya jadi dosen, karena dengan itu saya bisa mandiri, bisa membiayai diri sendiri, tidak tergantung kepada orang tua, hingga akhirnya saya bisa menikah,” kisahnya.

Pada 1974, Sodiki pun mempersunting Daris Salamah, wanita asal Blitar yang kini sudah memberikannya dua putera dan dua cucu. Hampir 40 tahun Sodiki terus mengabdikan diri sebagai dosen di almamaternya, Unibraw hingga akhirnya ia pensiun pada 2007 silam. Setahun kemudian rekan-rekannya mendorong Sodiki untuk mencoba tes sebagai hakim Konstitusi. ”Awalnya saya tidak ada minat, tapi karena didesak teman-teman, saya coba juga.

Ternyata dari 17 orang yang ikut tes, saya bisa lulus,” kata pria yang pernah menjadi anggota Komisi Konstitusi itu. Tak sekadar menjadi hakim, Sodiki bahkan kemudian terpilih sebagai wakil ketua Mahkamah Konstitusi (MK), mendampingi Moh Mahfud MD yang menjadi ketua MK. Meski menduduki posisi penting sebagai hakim Konstitusi, tapi masa awal di lembaga tersebut bagi Sodiki bukanlah hal yang mudah. Pekerjaan sebagai hakim dirasakannya berbeda dengan aktivitas rutin terdahulu sebagai dosen di kampus.

”Sejak dulu sebenarnya saya nggak punya cita-cita jadi hakim. Saya takut jadi hakim,” ujar pria penggemar olahraga tinju itu. Ketakutan itu, kata dia, lebih karena latar belakangnya yang tumbuh dalam keluarga religius. ”Karena dalam hadis dikatakan bahwa hakim itu masuk surga cuma sepertiga. Dua pertiganya masuk neraka. Bayangan saya selalu seperti itu tentang seorang hakim,” katanya.

Apalagi, kata dia, selama ini situasi penegakan hukum di Indonesia sangat memprihatinkan. ”Melihat perilaku para penegak hukum, membuat minat saya menjadi hakim semakin hilang,” imbuhnya. Namun karena ada nuansa berbeda di MK, yakni persidangan yang tidak mengurus harta benda, akhirnya Sodiki kemudian menerima pekerjaan sebagai hakim Konstitusi. (dodi esvandi)

http://www.indopos.co.id

From → Tokoh tokoh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: